di sini hanya akan dikutip beberapa dari buku Illuminata,,jika ingin belajar lebih banyak silahkan baca langsung dari bukunya.
ILLUMINATA Be Good Be Happy Be Mindful
Petikan Pengantar Jaya Suprana
"Andaikata
semua umat beragama bisa memiliki iman dan pemahanan rohaniah seperti
penulis buku ini dapat dibayangkan betapa indah kehidupan di Planet Bumi
ini karena tiada paksaan dogma-dogma fundamentalis sebagai sumber
kebencian, permusuhan, penganiayaan, bahkan pembinasaan yang
mengerikan!"
~Jaya Suprana, Budayawan, Kelirumolog
... Renungan Kebajikan ...
Semoga aku menjadi obat bagi yang sakit.
Semoga aku menjadi makanan bagi yang kelaparan.
Semoga aku menjadi pelindung bagi yang takut.
Semoga aku menjadi suaka bagi yang dalam bahaya.
Semoga aku menjadi penyejuk bagi yang murka.
Semoga aku menjadi pemandu bagi yang tersesat.
Semoga aku menjadi bahtera bagi yang menyeberang.
Semoga aku menjadi pelita bagi yang dalam gulita.
---
ILLUMINATA 01
EMPAT ISTRI
Pada zaman dahulu, ada
seorang pedagang kaya yang memiliki 4 orang istri. Dia paling mencintai
istri ke-4-nya dan memanjakannya dengan berbagai fasilitas hidup yang
bagus. Dia sangat penuh perhatian terhadap istri ke-4 dan selalu
memberinya yang terbaik.
Dia juga sangat mencintai istri
ke-3-nya. Dia sangat membanggakannya dan selalu ingin memamerkannya
kepada teman-temannya. Namun demikian, sang pedagang senantiasa khawatir
kalau istri ke-3 ini kabur dengan pria lain.
Dia juga mencintai
istri ke-2-nya. Istri ke-2 ini adalah wanita yang penuh pengertian,
penyabar, dan menjadi sandaran sang pedagang. Bilamana sang pedagang
menghadapi masalah, istri ke-2 selalu datang dan membantunya memberikan
jalan keluar dari masalah.
Sang istri pertama adalah wanita yang
sangat setia dan telah berjasa besar dalam menjaga kekayaan dan kejayaan
sang pedagang, serta mengurus rumah tangga mereka. Namun demikian, sang
pedagang kurang mencintai istri pertamanya dan jarang memperhatikannya.
Suatu
hari, sang pedagang jatuh sakit dan tak berapa lama dia menyadari bahwa
dia akan segera meninggal. Dia teringat kehidupan mewah yang telah
dijalaninya dan merenung: "Di sini aku punya 4 istri yang mencintaiku,
tapi kalau aku mati... aku akan sendirian. Aku akan kesepian!"
Maka
dia bertanya kepada istri ke-4, "Aku paling mencintaimu, melimpahimu
dengan busana terbaik, dan mencurahkan perhatian besar kepadamu.
Sebentar lagi aku akan mati, maukah kamu pergi bersamaku?" "Tidak
bisa!", jawab istri ke-4 sambil bergegas meninggalkannya. Jawaban itu
laksana pisau tajam yang langsung menusuk hati sang pedagang.
Pedagang
yang kecewa itu lalu bertanya kepada istri ke-3-nya, "Aku mencintaimu
dengan segenap hidupku, tapi aku akan mati, maukah kamu pergi
bersamaku?" "Tidak mau!", jawab istri ke-3. "Hidup ini begitu indah! Aku
akan menikah lagi kalau kamu sudah mati." Mendengar jawaban ini, hati
sang pedagang jadi runtuh.
Dengan sedih, dia bertanya kepada
istri ke-2, "Aku selalu berpaling padamu dan kamu selalu menolongku.
Sekarang aku butuh pertolonganmu lagi. Kalau aku mati, maukah kamu pergi
bersamaku?" "Maaf, kali ini aku tidak sanggup menolongmu," jawab istri
ke-2. "Paling-paling, aku hanya bisa mengirimmu ke krematorium." Jawaban
ini bagaikan halilintar dan membuat sang pedagang diam
terlongong-longong...
Tiba-tiba terdengar suara, "Aku akan
tinggal bersamamu. Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi." Sang pedagang
menoleh dan dia melihat istri pertamanya. Ia begitu kurus, lemah, dan
tampak kurang gizi. Sang pedagang jadi sangat terenyuh... dan meratap
lirih, "Aku seharusnya memperhatikanmu selagi aku bisa..."
Demikianlah,
istri ke-4 adalah ibarat tubuh kita. Tak peduli seberapa lama dan besar
usaha kita untuk mempercantik tubuh, tubuh tidak akan pergi bersama
kita ketika kita mati.
Istri ke-3 ibarat jabatan dan kekayaaan
kita. Ketika kita mati, tidakkah mereka pergi menjadi milik orang lain?
Tidakkah orang lain mengambil alih posisi kita?
Istri ke-2 adalah
ibarat keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli betapa baiknya mereka
saat kita hidup, paling jauh mereka hanya akan bisa mengantar kita ke
krematorium.
Istri pertama, dalam hal ini diibaratkan sebagai
kesadaran atau sisi spiritual kita, yang telah kita abaikan sepanjang
waktu dalam pengejaran kesenangan material dan indrawi. Padahal, justru
kesadaran inilah yang merupakan satu-satunya hal yang terus bersama kita
ke mana pun kita pergi.
Oleh karenanya, sudah semestinya kita
mulai mengembangkan dan melatih kesadaran kita, alih-alih menunggu
sampai menjelang ajal dan meratap, "Aku seharusnya memperhatikanmu
selagi aku bisa..."
Be Happy!
---
ILLUMINATA 02
KERENDAHAN HATI SEMU
Kita bisa amati
bahwa kerendahan hati yang semu dapat berkembang sedemikian rupa
sehingga orang bisa MERASA benar-benar rendah hati. Hal ini bisa sangat
menakutkan!
Kadang-kadang kita secara tidak sengaja menjadi korban
hal ini... Beberapa dari kita, terkadang dituduh kurang rendah hati dan
tulus. Oleh karenanya, ada orang yang belajar terlalu cepat dan terlalu
keras untuk menjadi rendah hati dan tulus, tanpa PERHATIAN yang benar
dan memadai.
Yang dimaksud dengan PERHATIAN yang kurang benar dan
kurang memadai adalah bahwa perhatian orang semacam itu hanyalah cukup
untuk menjaga pikiran dan perbuatannya terhadap orang lain. Perhatian
itu BELUM menembus ke dalam pikirannya sendiri!
Ia bisa menjadi
sungguh rendah hati, namun hanya dengan tujuan untuk memberikan kesan
yang baik. Dan niat untuk memberikan kesan baik ini terasa seperti
AKTUALISASI DIRI yang sehat, padahal ini adalah "KESOMBONGAN" yang
justru merupakan hambatan bagi pengembangan spiritual. Orang menjadi
tidak jujur kepada diri sendiri dan dunia tanpa menyadarinya.
Para
orang bijak tidak memiliki aktualisasi diri karena mereka tidak
memiliki diri (ego). Karena tidak memiliki ego, mereka bisa untuk tidak
mementingkan diri sendiri. Mereka tidak perlu merendahkan hati karena
pada hakikatnya mereka tidak memiliki keangkuhan untuk ditaklukkan.
Namun demikian, kita melihat sosok yang menyenangkan secara alamiah dari
seorang yang agung, semuanya ALAMI tanpa "perasa" maupun "pengawet",
mengatasi semua pretensi dan pertentangan di dalam batin. Betul-betul
damai dan menyegarkan!
Waspadalah terhadap kerendahan hati yang semu—kurangi keterpaksaan untuk menjadi rendah hati—jadilah alami!
Catatan:
Dalam teori hirarki kebutuhan Maslow yang tersohor, dikatakan bahwa
pemenuhan kebutuhan tertinggi seseorang adalah AKTUALISASI DIRI
(self-actualization). Tidak banyak yang tahu bahwa menjelang akhir
hayatnya Maslow meralat teorinya, yang mana pencapaian tertinggi
seharusnya adalah MELEPASKAN DIRI (self-transcendence)—meninggalkan
pemuasan keinginan diri nan tiada habis.
Be Happy!
---
ILLUMINATA 03
PELAJARAN TITANIC
Apa yang lebih berarti
daripada kisah cinta dalam film Titanic, adalah bagaimana karakter yang
berbeda-beda bereaksi di hadapan wajah kematian yang mendekat:
•
Perancang kapal tampak merasa bersalah, ia sedih dan menyesal,
merenungkan kesalahan yang telah ia buat, dan membiarkan yang lain
berlari ke perahu penyelamat.
• Sang kapten tampak penuh dengan
keterikatan, terjebak oleh reputasinya yang rusak dan mimpi indah
pensiunnya yang hancur. Ia memegang topinya, tidak mencoba menyelamatkan
diri, berdiam diri menunggu kematian. Terlalu angkuh?
• Si orang jahat sungguh tak bermoral, mencoba menyuap dan menipu untuk menyelamatkan diri sendiri.
•
Sang petugas tidak sanggup lagi menahan beratnya tekanan saat mencoba
menertibkan keadaan. Ia terpaksa menembak salah seorang penumpang yang
tidak mau antri. Merasa menyesal dan tak berdaya, ia menembak dirinya
sendiri!
• Ada juga orang-orang yang langsung terjun ke laut berenang mengejar perahu penyelamat yang sudah bergerak.
• Ada juga mereka yang berdoa dengan penuh semangat memohon pertolongan.
• Orang biasa, saling berebut untuk dapat masuk ke dalam perahu penyelamat.
•
Terdapat juga mereka (seperti Jack dan Rose) yang tidak mau lepas satu
sama yang lain, tapi tak peduli dengan sekitar! Betapa egoisnya cinta
buta itu…
• Dan tentu saja, ada sekelompok pemain musik yang membuat
sejarah dengan terus memainkan musik sampai mati di tengah orang-orang
yang panik.
Jadi pertanyaannya adalah: jika Anda berada di dalam
Titanic pada malam itu, Anda akan bereaksi seperti apa? Anda anggap
reaksi itu tepat? Apanya yang tepat? Titanic merupakan bencana besar
yang nyata. Ia merupakan satu-satunya kapal dalam sejarah yang diklaim
tidak dapat tenggelam, namun ia karam dalam pelayarannya yang pertama.
Apa hubungannya dengan kita?
Dari kisah nyata itu kita belajar
bahwa dalam keadaan normal, setiap orang tampak baik, ramah, bersahabat,
sulit untuk tahu siapa yang sebenarnya berkarakter baik atau buruk.
Namun begitu krisis melanda… nah! Pada saat itulah, sifat asli setiap
orang muncul! Ibarat banjir yang memunculkan semua kotoran, demikian
pula kesusahan dan kemalangan akan memunculkan dengan jelas siapa yang
baik dan siapa yang kurang baik. Dalam keadaan krisis, karakter asli
setiap orang akan tampak lebih nyata. Ini bisa kita amati dalam
kehidupan sehari-hari, orang-orang di sekitar kita, termasuk diri kita
sendiri.
Pelajaran penting lainnya adalah banyak di antara kita
yang merasa dirinya Titanic: kita acapkali berlaku seolah kita tidak
akan pernah mati. Kita merasa tidak dapat dikalahkan oleh Usia,
Penyakit, dan Kematian, tak terkalahkan melawan Hukum Kesementaraan.
Terselubungi oleh ilusi besar. Kesementaraan tidak untuk dibicarakan
tetapi untuk dihayati sampai ke sumsum tulang. Kematian yang mendekat
merupakan motivasi paling kuat bagi kita untuk mencapai keadaan yang
mengatasi kematian.
Tepat pada hari kita dilahirkan, kita semua
adalah Titanic yang SEDANG tenggelam, mengawali perjalan menuju
kematian. Masalahnya adalah kita tidak pernah tahu seberapa banyak
bagian dari kapal kehidupan kita yang masih berada di atas air. Sudahkah
Anda rencanakan cara menyelamatkan diri? Bagaimana caranya Anda akan
keluar dari kapal itu? Ada sebuah pepatah kuno di India:
”Hal yang paling menakjubkan di dunia ini adalah kita semua hidup seolah-olah kita masih akan hidup besok pagi.”
Pada
suatu hari nanti, kita tidak akan hidup lagi dan bagian yang menakutkan
adalah ‘besok’ itu bisa saja berarti betul-betul besok! Semoga kita
dapat menghargai hidup ini dan sadar betapa pentingnya melampaui hidup
dan mati, hari ini. Betul, sadarilah hal itu hari ini juga! Karena besok
mungkin sudah terlambat.
Iya, iya, Anda sudah pernah mendengar
nasihat semacam ini ribuan kali. Jadi, apakah yang ini akan menjadi satu
nasihat lagi seperti yang sudah-sudah? Anda sendiri yang menentukan.
Anda boleh mulai serius memikirkannya saat ini juga, atau besok???
Be Happy!
---
ILLUMINATA 04
JUNGKIR BALIK
Dalam sebuah ujaran
Tiongkok, kadang-kadang kita disebut sebagai “makhluk yang jungkir
balik” (dian dao zhong sheng). Mungkin terdengar lucu, tapi ungkapan itu
tepat melukiskan sifat kita. Ada beberapa contoh di sini...
Kita,
umat manusia kadang-kadang suka membayar agar bisa takut. Kita mencari
kesenangan dengan roller-coaster yang mengerikan atau dengan film-film
horor dan menganggap itu semua puncak kebahagiaan tertinggi.
Kita
jatuh cinta pada orang yang betul-betul asing, seperti pada bintang
film yang tak kita kenal, lupa bahwa orang-orang di sekeliling kita
(yang kita anggap sudah kita kenal sampai basi) adalah justru orang yang
mau mengorbankan nyawa demi kita. Betul, yang saya maksudkan adalah
cinta tak terbatas dari orang tua kita yang melampaui cinta-cinta
lainnya. Kita sering mengeluarkan duit untuk melihat bintang pujaan kita
tanpa banyak berpikir, tapi ragu-ragu saat hendak memberi kepada orang
tua kita untuk kesejahteraan mereka.
Kita makan makanan pedas,
panas eksotis, membuat perut kita jungkir balik, berkeringatan seperti
orang tidak waras, terengah-engah dan merasa ‘sungguh asyik’! Tatkala
hal ini terjadi, upaya mendapatkan kesejukan pikiran damai jadi
terlupakan! Makanan itu begitu enak—pada momen itu, lebih ‘hebat’ dari
surga mana pun! Kita sering memilih pergi menyantap makanan seperti itu
daripada bermeditasi atau bertenang damai!
Waktu yang
mengasyikkan berarti mabuk sampai setengah mati dan muntah ke mana-mana
meskipun harus pusing jungkir balik keesokan harinya.
Banyak
terdapat ‘jungkir balik’ yang aneh pada diri kita semua. Sifat
orang-orang yang bijaksana sebenarnya tidak terlalu berbeda dari kita,
dalam arti mereka cuma orang dengan ‘posisi yang benar’. Orang yang
bijaksana sangatlah membumi, realistis, dan dengan penuh pengertian
mengajar kita ‘berdiri di atas kaki sendiri’.
Dengan demikian,
proses pengembangan itu adalah ‘membalikkan sifat kita yang terbalik’ ke
hakikat sebenarnya! Kita semua adalah orang dengan benih pencerahan
yang tinggal di-jungkir-balik-kan ke keadaan yang benar! Kita adalah
orang biasa atau orang yang telah cerah, tergantung bagaimana kita
melihatnya. Dua sisi mata uang! Sudahkah Anda ‘berjungkir balik’? Kepada
hidup baru!
Be Happy!
---
ILLUMINATA 05
YA BEGITU SAJA
Suatu hari Sang Guru kehilangan kudanya.
Temannya datang untuk menghibur.
Sang Guru berkata,
"Baik? Buruk? Aku tidak tahu. Ya begitu saja."
Suatu hari kudanya pulang beserta seekor kuda liar.
Temannya datang mengucap selamat.
Sang Guru berkata,
"Baik? Buruk? Aku tidak tahu. Ya begitu saja."
Suatu hari anak Sang Guru patah kaki jatuh dari kuda liar itu.
Temannya datang untuk menghibur.
Sang Guru berkata,
"Baik? Buruk? Aku tidak tahu. Ya begitu saja."
Suatu hari pecah perang, semua pemuda sehat harus berangkat perang.
Temannya datang mengucap selamat.
Sang Guru berkata,
"Baik? Buruk? Aku tidak tahu. Ya begitu saja."
Setelah terik datanglah hujan.
Setelah hujan datanglah terik.
Bukan baik atau bukan buruk.
Ya begitu saja.
Kita
tidak semestinya terjebak dalam dualisme. Pikiran kita seolah
terprogram untuk berpikir dualistik baik–buruk. Lebih jauh, kita selalu
melekat pada apa yang kita ANGGAP baik.
Kalau sesuatu yang kita ANGGAP baik datang, kita katakan itu ANUGERAH, kita menyanjung, kita bersorai, kita tergelak….
Kalau sesuatu yang kita ANGGAP tidak baik datang, kita katakan itu MUSIBAH, kita merutuk, kita meratap, kita menangis….
Anugerah atau musibah, sebenarnya ya, begitu saja….
Bukan baik atau bukan buruk.
Pikiran kita sajalah yang meng-ANGGAP-nya demikian.
Masihkah kita akan "dipermainkan" oleh dualisme pikiran?
Ayolah, kita senantiasa berbahagia, dalam segala peristiwa.
Tidak ada baik, tidak ada buruk!
Ya begitu saja….
Be Happy!
---
ILLUMINATA 06
BISA MATI KAPAN SAJA
Seorang pria
mendatangi Sang Guru, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul.
Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apa pun yang saya
lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja.
"Sang Guru
tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat.
Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, Sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu dinamakan Alergi Hidup."
Banyak
sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma
kehidupan. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan
status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu
sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita,
penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah
tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu lumrah. Persahabatan pun tidak
selalu langgeng. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita
tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu
keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa, dan menderita.
"Penyakitmu
itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti
petunjukku," kata Sang Guru. "Tidak Guru, tidak! Saya sudah betul-betul
bosan. Saya tidak ingin hidup," pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi
kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya
sudah bosan hidup." "Baiklah, kalau begitu maumu. Ambillah botol obat
ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok petang.
Besok malam kau akan mati dengan tenang."
Giliran pria itu jadi
bingung. Setiap guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk
memberikannya semangat hidup. Yang satu ini aneh. Ia malah menawarkan
racun. Tetapi karena ia memang sudah betul-betul jemu, ia menerimanya
dengan senang hati. Sesampai di rumah, ia langsung menenggak setengah
botol "obat" dari Sang Guru. Dan... ia merasakan ketenangan yang tidak
pernah ia rasakan sebelumnya... Begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari,
dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam
itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun
terakhir.
Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai
banget! Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku
mencintaimu." Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat
ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya dan ia tergerak untuk
melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia melihat
istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan
membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan
manis! Sang istri pun merasa aneh sekali. Selama ini, mungkin aku salah,
"Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang.
Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka
pun langsung berubah. Mereka menjadi lembut. Karena siang itu adalah
siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala
sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran,
bahkan apresiatif terhadap perbedaan pendapat. Tiba-tiba hidup menjadi
indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah petang itu, ia menemukan
istri tercinta menungguinya di beranda. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau
selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin
ketinggalan, "Pa, maafkan kami semua. Selama ini Papa selalu stress
karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir
kembali. Seketika hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya
untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia
minum? Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, Sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu.
Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh! Jika kau hidup dalam kekinian,
jika kau hidup dengan kesadaran bahwa engkau bisa mati kapan saja, maka
kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Hilangkan egomu,
keangkuhanmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama
sungai kehidupan. Kau tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah
rahasia kehidupan. Itulah jalan menuju ketenangan. Itulah kunci
kebahagiaan."
Pria itu mengucapkan terima kasih, lalu pulang
untuk mengulangi pengalaman sehari terakhirnya. Ia terus mengalir. Kini
ia selalu hidup dengan kesadaran bahwa ia bisa mati kapan saja. Itulah
sebabnya, ia selalu tenang, selalu bahagia!
Tunggu. Kita semua
SUDAH TAHU bahwa kita BISA MATI KAPAN SAJA. Tapi masalahnya: apakah kita
SELALU SADAR bahwa kita BISA MATI KAPAN SAJA? Nah!
Be Happy!
---
ILLUMINATA 07
HATI SELUAS DUNIA
Dahulu kala, hiduplah
seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang
pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya
tengah dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan
keresahannya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah
berakhir bahagia.
Sang Guru mendengarkannya dengan teliti dan
seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk
mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia
aduk dengan sendok.
"Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" pinta Sang Guru.
"Asin dan pahit, pahit sekali," jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.
Sang
Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga
di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam
kediaman. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru
lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah
kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil. Setelah
air telaga tenang, ia pun berkata, "Coba, ambil air dari telaga ini, dan
minumlah."
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Sang Guru bertanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut pemuda itu.
"Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?" tanya Sang Guru.
"Tidak," jawab si anak muda.
Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.
"Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah
dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi,
kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau
tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana
cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati
kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup,
hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk
menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan
itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar
dari keluasan itu."
"Hatimu anakku, adalah wadah itu. Batinmu
adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu
seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap
kepahitan. Hati yang seluas dunia!"
Keduanya beranjak pulang.
Sang Guru masih menyimpan "segenggam garam" untuk orang-orang lain, yang
sering datang padanya membawa keresahan hati.
Be Happy!
---
ILLUMINATA 08
PUDING SUSU YANG BENGKOK
Hiduplah dua
anak yang sangat miskin. Mereka hidup dengan meminta-minta makanan dari
satu rumah ke rumah lain di desa. Satu dari mereka buta sejak lahir dan
yang satu membantunya; setiap hari mereka berkeliling meminta makanan.
Suatu hari anak yang buta jatuh sakit. Temannya berkata, "Kamu istirahat saja. Aku akan carikan makanan buatmu." Lalu dia pergi.
Hari
itu anak tersebut cukup beruntung, dia ditraktir oleh seseorang untuk
makan puding susu yang sangat lezat. Dia belum pernah mencicipi makanan
semacam ini dalam hidupnya dan dia sangat menikmatinya.
Ketika
anak itu pulang menemui temannya yang buta, ia menceritakan
pengalamannya, "Tadi aku ditraktir makan puding susu yang sangat lezat,
tapi sayang aku tidak bisa membawakannya untukmu."
Si anak buta bertanya, "Puding susu itu seperti apa sih?"
Jawab temannya, "Oh, itu lho, putih-putih... susu itu putih."
Karena buta sejak lahir, dia tidak paham, "Putih itu apa?"
"Kamu tidak tahu putih itu seperti apa?"
"Tidak tahu."
"Putih itu kebalikannya hitam."
"Hitam? Apa itu apa hitam?"
"Ya, ampun... coba kamu pahami putih itu saja deh!"
Si
anak buta tetap aja belum mengerti. Lantas temannya melihat seekor
burung bangau putih dan menangkapnya. Ia menyerahkan bangau putih itu
kepada temannya yang buta, "Nah, putih itu seperti ini."
Si anak buta menyentuh bangau itu, "O, aku tahu, putih itu lembut."
"Bukan! Bukan! Itu tidak ada hubungannya. Putih ya putih!"
"Tapi kamu bilang putih itu seperti bangau ini. Aku merasakan bangau ini lembut. Jadi puding susu itu lembut. Putih itu lembut."
"Bukan begitu... kamu masih keliru. Coba lagi..."
Kembali
si anak buta memeriksa bangau itu, dia menyapukan tangannya dari paruh,
ke leher, ke badan, sampai ke ujung ekor bangau. Akhirnya dia bersorak
kegirangan, "Aah, aku tahu sekarang! Putih itu bengkok! Puding susu itu
bengkok!"
Dia tidak bisa memahaminya karena dia tidak punya
kemampuan untuk mengalami warna putih itu seperti apa adanya. Demikian
pula halnya, jika kita tidak mengembangkan kemampuan untuk mengalami
Kebenaran seperti apa adanya, maka... Kebenaran akan selalu bengkok!
Be Happy!
---
ILLUMINATA 09
RESEP DOKTER
Seseorang jatuh sakit dan
berkonsultasi ke dokter. Sang dokter memeriksanya dan menuliskan resep
untuknya. Orang itu sangat percaya kepada dokternya, dia pulang dan
menaruh foto sang dokter di ruang doanya. Dia lalu mengambil resep dari
sang dokter dan menguncarkan tulisan di dalam resep tersebut, "Pagi dua
pil! Siang dua pil! Malam dua pil."
Karena begitu besar
kepercayaan orang itu kepada dokternya, setiap hari selama
berminggu-minggu dia terus menguncarkan isi resep itu, tetapi tetap saja
resep itu tidak membantu menyembuhkan penyakitnya. Dia memutuskan untuk
menemui sang dokter lagi untuk mengetahui lebih lanjut tentang resep
itu. Ia bertanya kepada sang dokter, "Kenapa Dokter memberi resep ini?
Bagaimana resep ini bisa menolong saya?"
Sebagai orang yang
bijaksana, sang dokter menjelaskan, "Begini... ini penyakitmu, ini
penyebab dari penyakitmu. Jika kamu minum obat yang saya resepkan, obat
itu akan mengatasi penyebab penyakitmu. Kalau penyebab penyakitmu sudah
teratasi, dengan sendirinya penyakitmu akan tersembuhkan."
Orang
itu berpikir, "Wow, luar biasa! Dokterku sangat pintar! Resepnya sangat
ampuh!" Dia pulang dan mulai bertikai dengan para tetangga dan temannya,
"Dokterku adalah dokter terhebat! Dokter lain tidak ada gunanya!" Namun
apa yang dia dapatkan? Seumur hidup mungkin saja dia terus bertikai,
tetapi tetap saja ia tidak tertolong. Hanya dengan meminum obatnya,
orang itu akan tersembuhkan dari penyakitnya, dari penderitaannya.
Orang
yang tercerahkan itu bagaikan dokter. Atas dasar belas kasih, ia
memberikan resep berisi nasihat kepada orang-orang mengenai cara untuk
membebaskan diri mereka dari penderitaan. Jika orang mengembangkan
keimanan membuta kepada orang bijak tersebut, mereka mengubah resep itu
menjadi ayat suci dan mulai bertikai dengan aliran lain, menyatakan
bahwa ajaran pendiri aliran mereka lebih hebat. Namun demikian, tak ada
yang sadar untuk mempraktikkan apa yang diajarkan, untuk meminum obat
yang diresepkan agar terbebas dari penderitaan.
Memiliki
keyakinan kepada dokter itu bermanfaat kalau memang bisa mendorong
pasien untuk mengikuti nasihatnya. Memahami cara kerja obat juga
bermanfaat jika itu bisa mendorong pasien untuk meminum obatnya. Tanpa
benar-benar meminum obatnya, mana bisa sembuh dari penyakit? Anda harus
meminum sendiri obatnya.
Be Happy!
---
ILLUMINATA 10
CARA MENGAJAR TERBAIK
Hiduplah seorang
guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang murid, salah
satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh
muridnya yang gagu untuk turun gunung.
Sang guru berkata, "Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran yang telah kubabarkan kepada semua orang."
Muridnya
yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas,
"Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran
Guru, saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja
yang tentu mampu membabarkan ajaran Guru dengan lebih baik?"
Sang
Guru tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang
diberikan olehnya. "Anggur ini manis sekali," tulis muridnya.
Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. "Anggur ini masam sekali," tulis muridnya.
Kemudian
Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi
anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, "Masam...
masam...."
Sang Guru menjelaskan pada muridnya,
"Kebenaran
bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari, tapi yang
terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Cacat
tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan
batin kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu,
tapi tidak pernah mengetahui manisnya madu itu. Kita jangan seperti beo
yang pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya.
Engkau
memang tidak mampu berbicara dengan baik, tapi bukankah engkau bisa
menyebarkan Kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku? Dan
yang lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran
akan menjadi panutan bagi yang lain?"
Itulah cara mengajar yang terbaik: teladankan Kebenaran dalam perilakumu, bukan cuma dalam omonganmu....
Be Happy!