Home » » Hubungan antara Turki Ottoman dan Kesultanan Aceh

Hubungan antara Turki Ottoman dan Kesultanan Aceh

Written By satya kumara on Wednesday, November 6, 2013 | 1:42 PM



Kapal Ottoman di Samudera Hindia di Abad Ke-16

Turki Ottoman dan Aceh, dua kesultanan yang secara geografis terpisah sangat jauh. Dua kesultanan ini pernah memiliki kedekatan hubungan bilateral yang cukup lama terjalin, antara abad ke 16 hingga abad ke 19. Sebenarnya Aceh bukanlah kerajaan pertama di Asia Tenggara yang pernah memiliki hubungan dengan Turki Ottoman, Kesultanan Samudera Pasai juga tercatat pernah memiliki hubungan perdagangan dengan Turki, dimana hubungan perdagangan tersebut terjalin karena pada awalnya banyak pedagang Turki yang ikut dengan rombongan pedagang india ke beberapa kerajaan di Nusantara, dan juga atas rekomendasi seorang muslim terkenal dari Afrika utara, yaitu Ibnu Battuta yang pernah berkunjung ke samudera pasai.

Sedangkan untuk hubungan antara Aceh dan Ottoman dimulai ketika Aceh yang menganggap kedatangan portugis di malaka sebagai ancaman sehingga mengirimkan duta ke Ottoman untuk meminta dukungan. Pengiriman duta oleh Sultan Alauddin Al-Qahhar ke Ottoman dikarenakan sang Sultan menganggap Ottoman salah satu kerajaan terbesar saat itu yang memiliki kesamaan Agama dengan Aceh, sehingga mungkin saja bisa membantu aceh mencegah ekspedisi Portugis di Selat Malaka dengan memainkan isu Agama. Surat beliau ditujukan kepada Khalifah Suleyman Al-Kanuni. Tetapi kemudian sampai pada masa Sultan Selim II. Pengiriman bantuan dari Ottoman ke Aceh sempat tertunda karena armada yang dipersiapkan untuk membantu Aceh harus dikirim terlebih dahulu ke Yaman, untuk meredakan pemberontakan yang terjadi disana. Baru pada tahun 1566, bantuan dari Ottoman tiba di Aceh dibawah pimpinan Kurdoglu Hizir Reis. Dikatakan Aceh membayar bantuan tersebut dengan Emas, Permata, dan Beras.

 
Kesultanan Aceh mendapat keistimewaan untuk mengibarkan bendera Turki Utsmani pada kapal-kapalnya sebagai tanda hubungan erat keduanya.

Ottoman juga mengajari Aceh bagaimana cara membuat meriam dan mesiu, dan pada abad ke 17, Aceh bisa berbangga hati karena bisa membuat meriam perunggu ukuran sedang. Bahkan pada saat itu atas bantuan Ottoman, Aceh juga berhasil membuat senapan putar bergagang dan arquebus. Hubungan Ottoman dengan Aceh mengakibatkan berkembangnya pertukaran antara Ottoman dengan Aceh dalam bidang militer, perdagangan, dan agama. Bahkan pada saat itu kapal – kapal Aceh sempat diizinkan mengibarkan bendera Ottoman. Dan hubungan erat antara Ottoman dengan Aceh ini sangat menghambat misi portugis untuk memonopoli perdagangan rempah – rempah, bahkan Portugis sempat ingin menyerang Aceh, namun gagal karena minimnya sumber daya manusia di Laut Hindia.

Waktu terus berjalan, dan aceh kembali mendapatkan ancaman yang kali ini datang dari Belanda. Pada tahun 1872 – 1873 Belanda ingin memperluas jajahannya, dan berniat untuk menyerang Aceh. Sultan Aceh pada saat itu langsung mengirimkan surat ke Sultan Ottoman untuk kembali meminta bantuan. Namun pada saat ini Sultan Ottoman sudah mulai kehilangan kekuasaannya, para menteri di Porte lah yang memiliki kekuasaan lebih pada saat itu.
Dan para menteri Ottoman pada saat itu lebih cenderung untuk tidak mengirimkan bantuan ke Aceh, walau sang Sultan secara pribadi berkeinginan untuk membantu. Hal ini juga dipengaruhi oleh tekanan Inggris dan Perancis yang meminta Ottoman agar tidak ikut campur. Memang masa ini merupakan masa – masa diujung kehancuran Ottoman, lebih tepatnya kurang dari 40 tahun sebelum masa kehancuran Ottoman.

Artikel ini gw tulis untuk majalah JasMerah, dan gw posting ulang di sini.
Sumber Gambar : Pasukanottoman.wordpress[.]com
Share this article :

Post a Comment

Orang Keren habis baca pasti komen, setuju ?

 
Support : TV Series | Ekspresi2nd Kaskus | Satya Kumara
Copyright © 2013. Blog Seorang Pemuda - All Rights Reserved
Template edited by Satya Kumara Published by Blog Seorang Pemuda
Proudly powered by Blogger