Home » » Kisah Pendudukan Kampus ITB pada tahun 1978

Kisah Pendudukan Kampus ITB pada tahun 1978

Written By Unknown on Monday, April 29, 2013 | 9:09 AM




Prolog

Jauh sebelum adanya “Gerakan Reformasi” di tahun 1998, para mahasiswa ITB di tahun 1978 telah melihat bahwa Pemerintahan Presiden Soeharto sudah mulai keluar dari idealisme-idealisme membangun sebuah bangsa dan negara dengan baik dan benar. Karena media massa saat itu sangat dikontrol oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak bisa mengutarakan pendapat, maka hanya mahasiswa-lah yang mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pendapat.

Dengan bersatu-padu, seluruh mahasiswa ITB saat itu melakukan berbagai kegiatan untuk “mengkoreksi” Presiden Soeharto melalui berbagai gerakan moral seperti menerbitkan buku putih dan mogok kuliah. Buku putih berisikan data-data kajian fakta dan juga pemikiran-pemikiran untuk perbaikan bangsa. Namun gerakan moral ini akhirnya di-“gebuk” dengan kekerasan melalui operasi pendudukan kampus ITB oleh tentara. Para tokoh mahasiswanya dipenjarakan di tahanan politik, misalnya di tahanan Cimahi. Panglima Kodam Siliwangi di tahun 1978 adalah Mayor Jendral Himawan Soetanto.




Beberapa tokoh pimpinan mahasiswa saat itu antara lain Heri akhmadi, Rizal Ramli, Indro Tjahjono, Irzadi Mirwan (alm), Al Hilal, Ramles Manampang, Jusman SD, Joseph Manurung, Kemal Taruc dan banyak lagi, ikut memimpin demonstrasi dan juga menuliskan sebuah buku putih. Dari sisi dosen ada nama Wimar Witoelar yang cukup vokal dalam acara-acara demonstrasi.

Inilah kisah tentang sebuah peristiwa yang pertama kali, dan mudah-mudahan terakhir dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, khususnya di kampus ITB. Kisah-kisah ini dituturkan oleh para alumni ITB angkatan 1977, yang pada saat itu relatif awam dalam berpolitik, namun berada dalam pusaran politik dan menerima dampak yang paling keras:

Diary Kiswanti - pendudukan kampus yang pertama
Saya waktu itu bergabung di unit Keluarga Donor Darah (KDD). Tempat saya tinggal di Jl Pajajaran 79 juga sempat menjadi tempat kumpul beberapa teman-teman pergerakan. Tugas saya membagi-bagikan vitamin dan makanan. Tugas ini dilakukan bersama “Laskar mahasiswi” (Laswi). Inilah tulisan dari diary-ku yang kutemukan. Saya kutip ulang seperti apa adanya. Mohon maaf bila bahasanya “culun” alias bahasa mahasiswi di zaman itu:

21 Januari 1978
sampe sekolah, kampus rame
rupanya tentara abis masuk
kurang ajar!
kenapa sih dari dulu tentara maunya maen kuasa.
mentang-mentang punya senjata!
gua ga rela kampus gua diperkosa manusia-manusia gila kuasa....


1 Februari 1978
kampus didudukin tentara
pagi-pagi beta nyelonong masuk sama Nana.
terus nangkring sampe bosen
malem bobo di sekolah dan
pagi-pagi tentara “getaut” dari kampusku.
horeeee...!!


Kronologi Irwan natarahardja tentang pendudukan kampus ITB yang pertama


  •     Tengah malam sudah diberitahu oleh salah satu crew radio mahasiswa Radio “8EH” ITB dan rekan-rekan Mahawarman , bahwa menjelang subuh akan dikunjungi “Kalong” atau “Kelelawar” (istilah pada saat itu bagi tentara yang akan datang ke kampus)
  •     Sekitar jam 02.00 listrik di kampus dipadamkan. Seingat saya, seluruh lampu dipadamkan dari gardu listrik oleh PLN
  •     Jam 02.00 seluruh mahasiswa diminta siap berjaga di sekeliling kampus Ganesha, dan bagi mahasiswa yang membawa motor, diminta untuk diparkir di sekeliling kampus Ganesha dengan menghadap ke jalan raya.
  •     Selama jam 02.30 sampai jam 04.00, sudah terlihat sangat samar-samar gerakan manusia disekeliling kampus (pokoknya, kampus ITB dan sekelilingnya…… suanggat guelllappp).
  •     Jam 04.00 (saya ragu apakah jam 05.00) mendapat instruksi agar seluruh motor menyalakan lampu yang diarahkan ke jalan raya, langsung terlihat bahwa sekeliling pagar di seberang jalan raya sudah berjajar Tentara.
  •     Komandan Mahawarman ITB menghadap Komandan Tentara (yang sudah diketahui dari Kodam Siliwangi) dan melakukan pembahasan. Komandan Mahawarman meminta agar Tentara masuk hanya dari pintu utama Kampus Ganesha di jalan Ganesha dan mulai masuk kampus pada saat Terang Tanah alias sudah fajar.Ternyata mereka setuju.
  •     Pasukan Tentara berbaris sekitar 8 jajar memasuki kampus, sesampainya di gerbang “Rene Conrad” mereka dihentikan oleh para mahasiswa senior.
  •     Pasukan mendesak masuk untuk menguasai kampus, tetapi seluruh mahasiswa melakukan aksi duduk dengan mengedepankan mahasiswi (pikir-pikir, jahat juga para cowok) sambil menyanyikan Indonesia Raya.
  •     Pada saat itu, saya melihat sendiri bahwa para tentara menurunkan senjata dan tameng, dan mendekati akhir lagu, ada beberapa dari mereka yang menitikkan air mata.
  •     Pada akhir lagu, mahasiswa meneriakkan, “Merdeka !!”. Hebatnya, tentara juga menyambut teriakan tersebut dengan “Merdeka !!”.



Pasukan mendesak masuk untuk menguasai kampus,
tetapi seluruh mahasiswa melakukan aksi duduk



  •     Ternyata, setelah menulis kembali cerita ini, saya merasa bahwa kejadian yang paling mengharukan selama di ITB adalah kejadian tersebut.
  •     Tentara tidak meneruskan desakan untuk maju.
  •     Sekitar jam 07.00 Rektor dan Purek III datang memberi orasi, yang intinya jangan melawan tentara dengan kekerasan, tetapi dengan Kekuatan Moral.

Mahasiswa dan tentara melakukan kesepakatan bahwa Tentara tidak menyebar dan tidak menduduki kampus, tetapi mahasiswa diminta berkumpul berbaris di Lapangan Bola.

  •     Ternyata, pada saat mahasiswa berbaris, Tentara mengumpulkan dan membawa mahasiswa yang tercantum dalam daftar tentara, termasuk seluruh pengurus Dewan Mahasiswa yang baru terbentuk beberapa hari.
  •     Sempat timbul kecurigaan sesama mahasiswa, termasuk kepada beberapa mahasiswa angkatan 1977, mengenai bagaimana cara mereka mendapat daftar lengkap pengurus DM.
  •     Minggu-minggu selanjutnya, banyak beredar mengenai cerita "Kampus Kuning" sebagai tempat re-indoktrinasi, tetapi sampai saat ini saya belum pernah mendengar langsung mengenai cerita ini.
  •     Siangnya hari pertama pendudukan, tentara melakukan penyebaran dan menduduki kampus tetapi tidak menguasai, karena mahasiswa tetap berada di dalam kampus walaupun diusir keluar oleh tentara. Para Senior menginstruksikan agar kampus tidak boleh dikosongkan dari mahasiswa, sehingga banyak yang tidak pulang selama beberapa hari.
  •     Malam hari pertama pendudukan, mahasiswa diberi tontonan gratis berupa film “Cintaku di Kampus Biru” yang belum beredar saat itu, sumbangan IOM (Ikatan Orang tua Mahasiswa) di studio milik Unit Liga Film Mahasiswa (LFM).
  •     Masyarakat mendukung gerakan mahasiswa dengan mengirimkan makanan bungkus dan buah-buahan. Saya sempat mengalami penerimaan kiriman buah rambutan satu pick-up dari orang tua mahasiswa, dan kita juga membagikan kepada para tentara.
  •     Setelah beberapa hari, Pasukan Siliwangi dianggap gagal melaksanakan instruksi pendudukan kampus, maka ditarik kembali ke barak.





Diary Kiswanti - Pendudukan kampus yang kedua – 9 Februari 1978

Saya sempat ditarik dan diseret oleh tentara waktu pendudukan kampus yang kedua pada 9 Februari 1978. Inilah kisah dari diary-ku :

9 Februari 1978

hari ini beta kesekolah rada siang, males.
terus ke sek os, kongkow2 dan ketawa-ketawa sama fren2.
jam 2 (kurang dikit 'kali) sama ger, wuri, toto ngeliatin ular makan kodok.
tau-tau ada nguing-nguing,
tentara lewat.
ada apa ya?
tadinya gue segen juga kedepan, mendingan nengok ular
daripada nengok tentara liwat
toh tetangga-tetangga di rumah juga tentara semua, apa bedanya?
tapi akhirnya gua penasaran juga, pengen tau apa yang sedang what happened.
lagi enak-enak nonton tentara baris tau-tau disuruh ke lap basket
gua sih nurut aja
tentara masuk..................
mulai deh yang serem-seremnya
temen-temen diangkat satu-satu secara random. rada heran juga gue.
lagi enak-enak bengong tau-tau temen-temen pada ke jalan semua.
kenapa?
oh kali pengen ikut ditangkep ama temen-temen yang laen.
terus duduk-duduk di jalan.
gua masih berdiri dipinggir ngga kebagian tempat duduk (abis ngga pake karcis sih!)
tentara mau mecah-mecah kita, kagak bisa.
eh mereka mau ngelabrak pake pager betis.
ngeriii...!!!
sama cewe-cewe yang laen aku terus kedepan, duduk disono,
ceritanya biar tentara kagak jahat-jahat.
ngga taunya sama aja, ngga cewek ngga cowok, di injek sih diinjek aja.
gue dan temen-temen laen mulai ditarik-tarik biar pisah dari barisan.
gue jelas bertahan dong, gengsi ya, ditarik-tarik tentara mau aja.
tapi gue kagak kuat juga,
kepaksa ikut kedepan sama yang laen-laen.
rombongan "hasil tarikan" ada dua grup. gua, desi, yetti dll satu grup, rada banyakan.
di depan kita agus item, tomi, wuri, ger, toto dan entah siapa lagi.
sambil terkheki-kheki dan sedih-sedih,
kita masih sempet ketawa-ketawa dan
nyanyi-nyanyi yang ngaco-ngaco.
yah sekedar mengimbangi perut yang udah mulai nyanyi, luaper, belom makan siang
akhirnya aku pulang selamat.
orang-orang di rumah udah kengerian,
padahal gue ngga papa.



Kisah Saifi Rosad – terkena popor senapan pada saat pendudukan Kampus kedua

Di awal tahun 1978, pendudukan Kampus ITB oleh tentara, terjadi dua kali. Yang pertama tidak terlalu ketat sehingga malam hari kita masih bisa masuk kampus lewat jalan samping, salah satu caranya melalui asrama di jalan Dago kemudian naik tembok dan turun di sekitar Planologi.
Namun pada pendudukan kedua penjagaan lebih ketat. Di sisi Timur tentara menjaga sampai di jalan yang menuju Dago seperti di jalan Hasanudin. Saat awal tentara masuk (siang hari) sebagian kita digiring dan didorong ke lapangan basket, waktu itu kebetulan saya berada dipinggir dan akhirnya ikut ditarik dan dibawa ke jalan Jawa. Menjelang malam hari sekitar pukul 8 dikeluarkan lagi dan di-drop di Dago Cikapayang. Jalan Dago malam hari itu penuh sesak oleh orang.

Motor saya yang tertinggal di parkiran Unit Liga Film Mahasiswa (LFM) dan tidak bisa diambil hingga beberapa hari. Tentara Siliwangi sepertinya setengah hati melaksanakan tugasnya, saat kepala saya “terkena” gagang bedil mereka menyampaikan maaf. Sewaktu kami di jalan Jawa, mereka juga baik-baik saja. Saat makan siang di kantin sebagian mahasiswa bilang ke penjaga kantin bahwa nanti yang membayar adalah pak komandan.
Waktu itu dibentuk sistem sel, kami menerima tugas menempel poster di tembok dan pagar di jalan atau digantung di pohon. Salah satu markas sel berada dirumah Purwo dari Jurusan Sipil yang ada di jalan Banda.

Kisah Irwan Natarahardja saat pendudukan kampus yang kedua tentang Jeep Vietnam

Pada hari kedua Pendudukan kampus yang kedua, saya ke kampus dengan ketidak-tahuan bahwa pendudukan dilakukan oleh Pasukan Kodam Brawijaya yang baru pulang dari Timtim. Saat itu saya masih mengira, kami para mahasiswa bisa “berbaikan” dengan tentara seperti pendudukan yang pertama. Ternyata, pada saat sampai di jln Ganesha di depan asrama, tengah terjadi pengejaran mahasiswa, yang sedang berjalan kaki ataupun naik motor, menggunakan “Jeep vietnam”. Istilah Jeep Vietnam adalah sebutan kami waktu itu untuk jip khusus milik tentara.
Didepan saya, terjadi adegan yang mengejutkan. Salah satu motor mahasiswa ditabrak sengaja oleh jip Vietnam tersebut dari belakang, sehingga pengemudinya terjatuh tak bergerak. Saya panik sekali dan berbalik, lalu dengan mengebut masuk ke tempat kost salah satu teman di Jl Taman Sari bawah. Sorenya saya keluar dari rumah tersebut dan mengetahui bahwa sang pengemudi sepeda motor terpaksa di rawat di RS Borromeus karena patah tangannya (saya juga lupa siapa korban itu) dan pada saat itu terdapat 3 mahasiswa yang menjadi korban dirawat inap. Mahasiswa ITB kemudian melakukan aksi mogok kuliah selama beberapa bulan alias memulai libur yang sangat panjang.


Kisah Dana pamilih – kamar diacak-acak tentara pada saat pendudukan kedua

Pada pendudukan kedua, saya mendapat informasi bahwa tentara yang dikirim kali ini dari Kodam Brawidjaja yg baru pulang dari Timtim. Jadi mereka memang terkesan lebih kejam dan berjiwa perang dibanding dengan tentara dari Kodam Siliwangi yang mungkin mempunyai keterikatan emosional dengan mahasiswa/i ITB.
Sewaktu pulang dari Jakarta, saya langsung menuju tempat kost di Jalan Dago 212. Saya sempat ter-kaget-kaget dan sedih melihat kamar saya yang begitu porak poranda. Rupanya kamar saya telah diacak-acak oleh tentara.

Kisah Dewi utami – terinjak-injak oleh tentara

Aku pernah dikejar-kejar tentara sampai-sampai kakakku yang tidak sekolah di ITB-pun ikut dicari-cari dan diuber-uber dengan di-srempet mobil. Sehingga aku berdua dan kakak-ku ditampung oleh keluarga Soerono (orang tua Iwan dari Jurusan Elektro angkatan 1977) sampai 2 minggu dan baru kemudian dengan bantuan senior-senior ITB dapat ticket kereta pulang ke Madiun untuk mengantar kakak-ku kerumah sakit. Sampai sekarang aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepada keluarga Soerono, dan sampai saat ini kehilangan jejak untuk menghubungi putra-putra beliau yang juga aktif di Unit Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK), dan di kegiatan ITB lainnya.
Sebenarnya, aku tidak tahu persis kenapa aku dicari dan akan ditangkap. Kegiatanku di kampus sangat sederhana. Karena relatif masih junior di PSIK, aku bertanggung jawab untuk menyelenggarakan acara rutin diskusi PSIK, memilih topik diskusi, mencari pembicara sampai menyelenggarakan acaranya dan terus kemudian menuliskan laporannya Ketika harus mencari pembicara aku berkesempatan mengenal orang-orang terkenal dan beberapa diskusi mereka memang membuat suasana panas karena ketidak-puasan akan pemerintahan saat itu.
Di student center, kegiatanku terfokus mengurus teman-teman yang kena kasus drop out. Sehingga harus mondar-mandir ke Jakarta bertemu Pak Doddy (alm) yang kebetulan jadi Dirjen Perguruan Tinggi yang juga alumni Biologi. Ada beberapa temen yang kemudian dapat diberi kesempatan beberapa semester tambahan tapi ada juga yang terpaksa harus melanjutkan sekolah ke tempat lain.
Jadi, rasanya sangat aneh ketika aku dicari-cari oleh tentara untuk ditangkap. Tapi mbak Ratna Panjaitan dan temen-teman senior student center menegaskan aku harus pergi dari tempat kost-ku di jln. Raden Patah 8. Aku tidak menggubris, karena bapak kost-ku selalu menyaring tamu yang tidak dikenal. Tapi akhirnya pada suatu malam, beliau menyarankan aku untuk pergi dari tempat kost-ku demi keamananku.
Saat itu suasananya sungguh mencekam. Aku baru percaya setelah tahu kakakku juga dikejar-kejar tentara sampai mengalami kecelakaan. Karena, sudah terlanjur basah dan kepalang tanggung, maka setelah pulang dari Madiun aku bergabunglah dengan Laskar Mahasiswi (LASWI). Aku mengajak juga teman jurusan Biologi yang lain. Bersama Kari, Aan, Menik dan temen BI'77 kami cukup aktif mengumpulkan dan mengirim keperluan teman-teman yang lagi dipenjara.
Hanya setelah peristiwa itu berlalu, dan setelah banyaknya peristiwa penembakan masal ke demonstrans, aku mulai terpikir, mungkin aku dikira mati waktu terinjak dan dipukuli oleh tentara. Mungkin karena mereka tidak mau ada catatan orang meninggal di kampus ITB, maka aku jadi dicari-cari, bukan untuk di-interview, seperti teman-teman yang waktu itu masuk penjara, tapi mungkin hanya untuk meyakinkan bahwa aku tidak mati. Alhamdullilah, waktu itu saya hanya pingsan saja.

Kisah Arya Rezavidi – Kisah tentang Dewan Mahasiswa ITB yang ketuanya ditangkap

Pada saat saya masuk ITB pada tahun 1977, suasana kampus saat itu sedang bergolak karena masalah politik.
Suasana memang tidak terlalu kondusif untuk belajar, karena hampir setiap saat selalu ada orasi politik yang dilakukan oleh mahasiswa yang dilakukan di lapangan basket.
Setelah memasuki kampus ITB, setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti paling tidak 2 jenis kegiatan ekstra kurikuler.
Pada saat itu saya mengikuti 2 kegiatan yakni karate (KKI) dan PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan).
Di PSIK ini saya berkenalan dengan Pudji Asmoro (sesama angkatan 1977) dan kemudian hari saya juga banyak mengenal beberapa tokoh mahasiswa yang menjadi anggotanya. Salah satu yang saya kenal adalah Anton Leonard (dari jurusan Geodesi).

Saya sendiri tidak tahu apakah beliau anggota PSIK atau bukan, yang jelas pada saat itu sering kumpul-kumpul berdiskusi dengan tokoh-tokoh mahasiswa lainnya termasuk para pejabat Dewan Mahasiswa-ITB (DM-ITB). Pada saat itu sedang dilakukan pemilihan Ketua DM-ITB yang baru dan akhirnya terpilih Heri Akhmadi. Dalam kepengurusan DM ini, Anton Leonard menjadi Ketua Departemen penerangan DM-ITB.

Seiring berjalannya waktu dan kemudian terjadi 2 kali pendudukan kampus oleh tentara, serta kemudian banyak pimpinan DM-ITB yang dibui termasuk juga Heri Akhmadi, maka kepengurusan DM-ITB akhirnya untuk sementara dijabat oleh sebuah presidium dengan salah satu ketuanya adalah Jusman SD, mahasiswa jurusan Mesin angkatan 1973 dan sekarang menjabat Menteri Perhubungan. Jusman terpaksa harus mengoperasikan organisasinya diluar kampus. Pada saat kepengurusan DM berada di luar kampus inilah, saya diminta Anton untuk membantu tugas-tugas Departemen Penerangan DM-ITB.

Terus terang saja karena saya sendiri masih awam dalam masalah kemahasiswaan dan karena saya sendiri belum genap setahun menjadi mahasiswa ketika terjadinya pendudukan kampus, maka keterlibatan saya ketika itu saya rasakan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak memiliki visi yang jelas benar sebenarnya kemana akan arah dari pergerakan mahasiswa ketika itu. Yang saya tahu hanyalah bahwa mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto tidak mencalonkan lagi menjadi presiden dalam SU-MPR berikutnya.

Ketika kampus diduduki ini, kepengurusan DM beberapa kali membuat rapat di luar kampus berpindah dari rumah ke rumah, diantaranya yang saya ingat pernah ikut rapat di jalan Cipaganti, di jalan Tirtayasa dan bahkan pernah juga di kompleks Sesko ABRI di jalan Gatot Soebroto, Bandung. Saya tidah tahu rumah siapa saja yang dipakai rapat ini. Saya juga akhirnya berkenalan dengan Gembos, dari jurusan Geodesi angkatan 1975, yang bersama-sama Anton Leonard berada di Departemen Penerangan DM-ITB.

Kisah Arya rezavidi - Mencetak buku Putih I

Pihak Dewan Mahasiswa (DM) memutuskan untuk tetap berkomunikasi dengan seluruh mahasiswa yang ketika itu terpencar di luar kampus karena kampus diduduki tentara. Pihak DM menginginkan agar secara rutin menyebarkan selebaran untuk menunjukkan eksistensi mereka di luar kampus. Bersama-sama Anton dan Gembos, saat itu kami mencari beberapa lokasi untuk menempatkan mesin stensil milik DM, sampai akhirnya sampai di rumah Alex Supeli di Ciumbuleuit. Di tempat ini saya pertama kali berkenalan dengan Karlina Supeli, dari jurusan Astronomi angkatan 1977, adik dari rekan Alex. Selebaran sempat dicetak di rumah Alex Supeli ini, namun karena alasan keamanan Karlina menyarankan agar mesin stensil ini dipindahkan ke rumah Budiman Kresnaedi, teman seangkatan dari jurusan Planologi, yang biasa dipanggil Engkis. Kebetulan rumah Engkis tidak jauh dari rumah Alex yakni di jalan Panumbang Jaya, Ciumbuleuit.

Akhirnya kami menuju ke rumahnya dan di rumah ini juga tinggal beberapa angkatan 1977 lainnya yakni Agus Dana, dari jurusan Biologi yang masih saudara sepupu Engkis, dan juga Ahmad Syamsi dari jurusan Fisika. Engkis tidak keberatan mesin ditempatkan di sana dan mulailah malam itu juga semua hasil rapat DM-ITB diperbanyak dan dijadikan selebaran stensilan untuk disebarkan keesokan harinya. Pengetikan selebaran dilakukan di tempat lain dan tugas kami hanya mencetak di atas mesin stensil tersebut. Hampir setiap malam tangan kami belepotan hitam kena tinta stensil. Salah satu yang kemudian kami cetak juga adalah Buku Putih I yang penyusunan dan pengetikannya saya sendiri juga tidak tahu persis oleh siapa dan dimana. Yang pasti tugas kami hanyalah mencetak dan mencetak terus.

Suatu saat Anton dan Gembos meminta saya untuk mengambil sumbangan dari seseorang, untuk membeli mesin stensil yang baru karena dengan hanya 1 mesin dirasakan kurang, tertutama pada saat mencetak Buku Putih I. Saya tidak tahu rumah siapa pada saat itu, tapi saya dibawa ke sebuah rumah di jalan Wastukancana. Di rumah ini Gembos menerima sejumlah uang yang menurut saya untuk saat itu ukurannya cukup banyak. Belakangan saya baru tahu bahwa rumah yang kami datangi tadi adalah rumah keluarga Panigoro.

Dengan uang sumbangan tadi kami bisa membeli mesin stensil baru, tinta dan kertas-kertas yang semuanya kami beli di toko Gestetner di jalan Tamblong, Bandung. Dengan tambahan mesin stensil ini tugas kami mencetak semakin mudah dan cepat.

Kisah Karlina Supelli – terpaksa pindah tempat untuk pencetakan buku putih

Agus Dana dan Budiman (Engkis) dulu serumah di kawasan Ciumbuleuit. Di rumah merekalah "Buku Putih" ITB dan berkas-berkas sumber “Gerakan 1978” dibuat dan diperbanyak pakai mesin stensil, lalu disebar ke perguruan tinggi lain di Jawa. Beberapa mahasiswa ITB ditangkap di Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika sedang membawa Buku Putih itu. Saya ingat karena saya dan Alex ikut mengerjakan penerbitan gelap itu.
Semula pengetikan dan perbanyakan dikerjakan di rumah kami, tetapi karena terlalu menyolok dan mulai didatangi intel, kami pindah ke rumah Engkis yang lebih terpencil tetapi masih di kawasan sama. Kegiatan di rumah Engkis dan Agus ini sangat menegangkan karena selalu dikerjakan tengah malam. Setelah selesai dicetak, berkas kemudian dibungkus, diangkut naik mobil atau motor secara diam-diam dan disebarkan. Buku putih ini merupakan salah satu sumber informasi bagi gerakan mahasiswa saat itu.

Kisah Roy Djanegara – mengantarkan makanan ke tempat persembunyian

Rumah kami pada waktu itu dijadikan salah satu basis tempat para mahasiswa mulai bergerak, termasuk tempat berkumpulnya rekan-rekan yang ikut tertangkap, seperti Iwan Soerono, Ncoeng (Agus J Alwie – red), dan beberapa orang lain seperti Budi Kawi dan Uwen (Huseil akil – red). Pada pagi hari itu mereka berangkat dari Sukaluyu untuk mengecat di tembok dan jalan-jalan. Juga memasang spanduk dan poster di berbagai tempat di kota Bandung.
Tapi karena salah informasi, pengecatan jalan yang harusnya selesai jam 0400 pagi, mereka malah baru mulai jam 0400 pagi. Akibatnya dari sekian banyak motor yang berangkat, hanya sebagian kecil saja yang kembali ke pangkalan. Sebagian besar rekan-rekan kita tertangkap oleh tentara.
Selama masa pendudukan kampus pada waktu itu, tugas saya adalah mengantarkan makanan untuk para mahasiswa senior yang bersembunyi dari kejaran aparat. Kebetulan kakak saya, Tanya Kantika dari jurusan Farmasi angkatan 1974, adalah salah satu anggota Laswi (Laskar Mahasiswi) yang aktif. Dia juga salah satu sahabatnya Aussie Gautama yang kemudian menjadi ketua Dewan Mahasiswa setelah Heri Akhmadi. Kakak saya inilah yang mengetahui tempat persembunyian para aktifis mahasiswa, dan dia yang memberi informasi kepada siapa saja nasi bungkus tersebut harus dikirimkan dan dimana tempat persembunyian mereka.

Kisah Agus Purnomo – mendistribusikan buku putih

Saya teringat sewaktu dikejar-kejar tentara dan punya KTP sampai 3 buah dengan nama yang berbeda-beda. Yang pasti, saya masih sedih mengingat cerita Kiswanti diseret dengan ditarik rambutnya oleh tentara yang dikirim dari Kodam Brawijaya pada saat pendudukan kampus. Terus ada juga yang mengalami patah tangan karena berhadapan dengan tentara, tapi rasanya bukan dari angkatan 1977.
Salah satu dongeng kegiatan "perjuangan mahasiswa" -adalah bagaimana, Halim Mangunjudo (jurusan Elektro), Arie (Jurusan Sipil), Jun (Jurusan Teknologi Industri), Didi (Jurusan Arsitektur), Budi Kawi, Burhan, Goenarso (jurusan Teknik Industri) dan banyak teman angkatan 1977 lainnya melakukan operasi pencetakan dan pendistribusian buku-buku pleidoi dan “buku putih” di Motel di Karang Setra. Bagaimana mobil VW warna oranye punya Arie jebol mesin-nya di Jagorawi karena dipakai ke Jakarta pulang-pergi untuk dropping buku pleidoi. Padahal mobil itu pergi ke Jakarta tanpa meminta izin ke orang tua Arie.

Kisah Arya Rezavidi – ikut membuat dan memasang spanduk untuk menunjukan eksistensi Dewan Mahasiswa ITB

Tugas lain yang kami dapatkan dari Dewan Mahasiswa ITB (DM-ITB) adalah membuat spanduk yang harus dipasang di jalan Dago menjelang Sidang Umum (SU) - MPR. Isi spanduk ini sebenarnya hanya ucapan selamat kepada para anggota MPR untuk menjalankan tugas pada SU MPR, namun yang jadi masalah di bawah ucapan tersebut tertera Dewan Mahasiswa ITB sebagai pemberi ucapan. Tentu saja pembuatan spanduk ini tidak bisa diorderkan ke tempat lain, sehingga akhirnya kami putuskan untuk membuatnya sendiri.
Kain warna biru muda kami beli sendiri dan juga cat (kalau tidak salah berwarna kuning). Seharian bahkan sampai larut malam pembuatan spanduk ini kami kerjakan di rumah Engkis (Budiman Kresnaedi). Dapat dibayangkan karena kami bukan professional tukang membuat spanduk, maka cat belepotan di sebagian besar lantai rumah Engkis. Selesai pembuatan spanduk, pemasanganpun kami lakukan sendiri. Pemasangan dilakukan pagi hari setelah subuh agar tidak diketahui orang, dan dipasang di jalan Dago persis di depan SMAK Dago/ SMA I. Pemasangan spanduk ini juga sengaja dilakukan untuk menunjukkan eksistensi DM-ITB.


Kisah Halim Mangunjudo yang sempat ditahan tentara di penjara Cimahi

Saya ingat sekali, pertama kali seumur hidup check-in di motel di daerah Karang Setra, yang modelnya mobil langsung masuk garasi. Di garasi itulah kemudian terjadi transaksi dari percetakan buku pledoi, yang beberapa minggu kemudian kita distribusikan secara serentak. Caranya melalui gerilya pada subuh pagi dengan memasang poster beredarnya buku tsb. Lalu melakukan gerilya distribusi ke outlet yang bisa menjaga rahasia. Sehingga dalam waktu setengah hari, semua terjual habis sebelum kejaksaan sempat mengeluarkan larangan beredar... Seru.....
Saya kemudian ditangkap tentara dan sempat meringkuk di penjara. Saya cuma ingat, pada minggu kedua disana (kami ber-19), Ncoeng (Agus Alwie – red) sudah mulai dianggap cantik oleh sesama tahanan politik (tapol). Juga mendengar kisah sesama tahanan yaitu Husein Akil, yang dijemput tentara di rumahnya dengan menyebut nama Akil, sehingga yang keluar malah bapaknya.

Kisah Husein Akil dipenjara bersama Tapol G-30-S dan Gerakan DI-TII

Ketika baru menginjak tahun ke 2 sebagai mahasiswa ITB yaitu tahun 1978 terjadi gejolak mahasiswa dalam menentang pemerintahan Soeharto. Bagi angkatan saya pada saat itu pembagian jurusan belum dilaksanakan sehingga saat itu masih sebagai mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama). Meskipun demikian, cukup banyak mahasiswa seangkatan yang juga terlibat dalam pergerakan tersebut. Melakukan demonstrasi (unjuk rasa) saat itu dilarang sehingga melakukan penyebaran pamflet, poster dan spanduk sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah tidak dapat dilakukan secara terbuka.

Salah satu cara dalam melakukan penyebaran/penempelan poster di tempat-tempat strategis di kota Bandung dilakukan dengan cara yang saat itu disebut bergerilya yaitu dilakukan pada waktu dini hari menjelang subuh (serangan fajar). Saya bersama Halim Mangunjudo, teman seangakatan dari jurusan Elektro, ketika melakukan serangan fajar mengendarai vespa tertangkap polisi tibum (ketertiban umum) kemudian dimasukkan ke kendaraan truk terbuka dan ditahan sementara di kantor kodim baru di sore harinya kami dibawa ke penjara tahanan politik Cimahi diinapkan di sana selama 35 hari. Kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa ITB lainnya yang mereka juga tertangkap sedang melakukan serangan fajar di tempat lain.

Di penjara Cimahi kami bertetangga dengan blok tahanan G30S (pendukung Sukarno) yaitu para tahanan dari kelompok perwira tentara, saya teringat salah satunya adalah Kolonel Sukardi bekas walikota Bandung dia mengenali saya dari nama Akil (karena ayah saya juga tentara). Blok tahanan juga berdekatan dengan tahanan dari pemberontak Darul Islam (DI), bahkan kami sewaktu-waktu sering bertemu dengan mereka shalat berjamaah di Mushola, salah satunya adalah Dodo Mohamad Darda anak dari pimpinan pemberontak Kartosuwirjo.

Alumni ITB angkatan 1977 selain Halim yang masih kental dalam ingatan saya bersama-sama di penjara Cimahi antara lain adalah Iwan Soerono dari jurusan Teknik Elektro, Budi Kawi dari jurusan Teknik Mesin dan Agus Alwie dari jurusan Arsitektur. Aku kenal baik dengan Budi karena sama-sama di SMPN 5 Badung Jl Sumatra. Dari salah seorang senior yang ditangkap ada Moh Iqbal dari Jurusan Teknik Industri angkatan 1974.

Di Cimahi kita bertetangga dengan blok tahanan G30S, para pentolan Gerakan 30 September yang nota bene adalah pendukung Presiden Sukarno, mereka adalah para tahanan dari kelompok perwira tentara. Aku teringat salah satunya adalah Kolonel Sukardi bekas walikota Bandung. Dia mengenali saya dari nama Akil (karena bapakku juga tentara). Blok tahanan kita di Cimahi juga berdekatan dengan tahanan dari DI TII, bahkan kita sewaktu-waktu sering bertemu dengan mereka shalat berjamaah di Mushola. Aku teringat salah satunya adalah Dodo Mohamad Darda (katanya sih salah satu dari anaknya Kartosuwirjo).

Ada peristiwa lain yang juga mungkin tidak akan pernah lupa bagiku pribadi yaitu ketika kita sedang kumpul malam-malam di kampus untuk membicarakan gerakan demo selanjutnya (beberapa hari sebelum kita tertangkap) aku sempat di sidang oleh teman-teman para aktivis ketika itu karena dicurigai sebagai "intel" seru juga ketika itu!. Yang meyakinkan kepada teman-teman bahwa aku bukanlah intel adalah sahabatku dari FT juga yaitu Ali Baharuddin. Ini semua ceritera 28-29 tahun yang lampau tapi selalu teringat dengan segar di benakku.




Kisah Didi haryadi menjadi pembela rekan-rekan mahasiswa yang ditangkap

Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Al Hilal, Jusman SD, Indro Tjahjono, dan Ramles Manampang akhirnya menjadi buron aparat Orde baru dan tertangkap. Tokoh-tokoh ini merupakan rekan-rekan seangkatan yang dipenjara dan diadili pada tahun 1979. Para tokoh mahasiswa ITB tersebut didukung dan dibela oleh para pengacara senior dari YLBHI seperti Adnan Buyung Nasution, Harjono, Sukardjo, Amartiwi Saleh dll

Dewan Mahasiswa ITB membentuk Komite Pembelaan Mahasiswa yang diketuai Wimbo dari jurusan Elektro angkatan 1975 (saat ditulis ia masih bekerja di PT Indosat). Saya ikut didalam komite ini bersama teman-teman angkatan 1977 lainnya antara lain seperti Arie (dari Jurusan Sipil) dengan mercy tua yang sering kami pinjam dari orang tuanya. Juga rekan-rekan lain seperti Jun (dari jurusan Teknologi Industri) dengan kegesitan pekerjaan kesekretariatannya, serta Burhan (dari jurusan Astronomi) dengan "karbon"nya, Agus purnomo (Pungki) dan teman-teman lainnya seperti Hendardi dari Jurusan Sipil angkatan 1978.

Tugas kami kebanyakan adalah membantu menyiapkan pembelaan yang dibuat para pengacara tersebut, termasuk menyiapkan akomodasi beliau-beliau yang datang malam-malam dari jakarta. Kami juga menerbitkan pledoi yang dibuat para tokoh tersebut ke dalam satu buku yang kita sebut buku putih kedua dan mendistribusikannya ke tokoh-tokoh diluar dan elite politik yang termasuk dalam barisan “sakit hati”, seperti Ali Sadikin dll dan juga ke rekan-rekan mahasiswa di kampus-kampus lain.

Saking semangatnya waktu mengejar satu rombongan Perhimpunan Alumni Jepang, yang sedang berkumpul di hotel Panghegar, saya bersama Ari dengan mobil VW milik Arif Ariman menabrak becak di deket simpang lima Jl Gatot Subroto sampai bumper belakangnya ringsek. Sambil minta maaf ke Ariman, akhirnya malam itu juga kami keliling-keliling mencari tukang las dan ketok duco dan memperbaiki dengan biaya patungan.

Memang betul operasi distribusinya relatif sangat seru. Kami memakai segala macam sandi, gerilya, selundup-sana selundup-sini, dan macam-macam kiat-kiat lainnya. Selain Motel Karang Setra, proses pembuatan dan pengetikan juga dilakukan di rumahnya Adnan Buyung Nasution di Jl. Ranca Bentang – Cimbuleuit. Di rumah Adnan buyung kami bekerja hampir 24 jam penuh. Para pembela dan mahasiswa juga sering berdiskusi sampai lewat tengah malam di Wisma ITB disaat menjelang dan sesudah persidangan pembelaan mereka.



Share this article :

+ comments + 1 comments

April 2, 2014 at 7:30 AM

Bung Satya Kumala
saya ijin share tulisan harian rekan2 angkatan 77 ini di facebook page saya "revolusi dari secangkir kopi", terimakasih

Post a Comment

Orang Keren habis baca pasti komen, setuju ?

 
Support : TV Series | Ekspresi2nd Kaskus | Satya Kumara
Copyright © 2013. Blog Seorang Pemuda - All Rights Reserved
Template edited by Satya Kumara Published by Blog Seorang Pemuda
Proudly powered by Blogger