Home » » “Sang Penjagal”, Raymond Pierre Paul Westerling

“Sang Penjagal”, Raymond Pierre Paul Westerling

Written By satya kumara on Monday, August 26, 2013 | 10:17 AM


Westerling (Sumber gambar : Liputan6.com)

Raymond Pierre Paul Westerling, seorang Belanda yang sangat fenomenal di Indonesia. Ia lahir di Istanbul, Turki, pada hari Minggu 31 Agustus 1919 dan meninggal di Belanda pada tanggal 26 November 1987. Orangtuanya adalah pasangan pedagang karpet. Ayahnya seorang Belanda, ibunya keturunan Yunani.

Westerling sudah hidup mandiri sejak umur 5 tahun, dimana ketika ia ditinggalkan oleh orang tuanya pada saat itu. Hal itulah mungkin yang membentuk dirinya menjadi orang yang tidak bergantung dan terikat pada siapa pun. Di umur yang masih sangat belia Westerling sudah tertarik pada buku – buku perang, dan ia pun memiliki kesempatan menjadi tentara ketika perang dunia pecah pada Desember 1940.

Mesir dan Palestina pernah menjadi medan tempur Westerling bersama kesatuannya. Dua bulan kemudian ia dikirim ke Inggris dengan kapal. Di sini tingkah liarnya mulai muncul. Ia menyelinap menuju Kanada, melaporkan diri ke Tangsi Ratu Juliana, di Sratford, Ontario. Di situlah ia belajar berbahasa Belanda.

Ketika dikirim ke Inggris, Westerling bergabung ke brigader Putri Irene. Spesialisasinya adalah sabotase dan peledakan, SAS (The Special Air Service) pasukan khusus Inggris yang terkenal memberikannya baret merah. Dan yang membanggakannya, ia pernah bekerja di dinas rahasia Belanda di London, pernah menjadi pengawal pribadi Lord Mountbatten, dan menjadi instruktur pasukan Belanda untuk latihan bertempur tanpa senjata dan membunuh tanpa bersuara.

Kehidupan yang tenang di barak, yang hanya diisi dengan latihan ternyata sangat menjemukan bagi Westerling, dia ingin merasakan keramaian perang. Keinginannya ikut perang kesampaian pada 1944, Inggris menerjunkannya ke Belgia. Dari situ ia bergerak ke Belanda Selatan. Menurut buku De Zuid-Celebes Affairs, di Belgia itulah ia kali pertama merasakan perang sesungguhnya. Tapi, menurut Westerling sendiri, dalam Westerling, ‘De Eenling’ (Westerling, Si Penyendiri), perkenalan pertamanya dengan perang terjadi di hutan-hutan Burma.

Di tengah – tengah puncak karirnya entah mengapa ia meninggalkan satuannya, pasukan elit Inggris, dan masuk menjadi anggota KNIL. Di Kolombo ia terpilih masuk ke dalam pasukan gabungan Belanda - Inggris. Pada September 1945, bersama beberapa pasukan, Westerling diterjunkan ke Medan, Sumatera Utara. Tujuannya, menyerbu kamp konsentrasi Jepang Siringo-ringo di Deli, dan membebaskan pasukan pro-Belanda yang ditawan. Ia berhasil.

Di Sumatera Utara, Westerling pernah menkoordinir orang - orang cina untuk mempentuk pasukan teror Poh An Tui (PAT). Karier militer Westerling menanjak cepat di KNIL. Awalnya, ia hanya seorang instruktur. Tak lama, di usia 27 tahun, Letnan Satu Westerling diangkat sebagai Komandan Depot Speciale Troepen (DST), Pasukan Para Khusus Belanda. Satuan inilah yang ditugaskan ke Makassar, untuk membantu Kolonel De Vries mempertahankan kekuasaan Belanda. Pada 5 Desember 1946, ia tiba di Makassar. Tidak butuh waktu lama bagi satuan ini, untuk menebar teror di sana, perkampungan dikepung kemudian di mortir, yang lari ditangkap kemudian dibunuh atau tembak ditempat.

“Semua orang kampung, juga perempuan dan anak-anak, dikumpulkan dan ditembaki satu per satu. Saya pura-pura mati dan menjatuhkan diri di antara timbunan mayat berlumuran darah Saya tidak berani bergerak sebelum merasa yakin, Westerling dan pasukannya itu benar-benar telah pergi jauh”. Begitulah kesaksian seorang penduduk di Makassar atas aksi kekejaman Westerling.

Westerling banyak melakukan pembantaian di Indonesia. Untuk Sulawesi Selatan sendiri Westerling membantai mulai dari Kota Makassar, Kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang mulai dari Desember 1946 sampai Febuari 1947. 40.000 Korban jiwa selama hanya 3 bulan aksinya di Sulawesi Selatan. Nyaris semua kesaksian, baik pihak Indonesia maupun pihak Belanda sendiri membenarkan bagaimana kejinya kekejaman Westerling. Dia adalah prajurit yang sangat mudah membunuh seseorang, tanpa alasan jelas. Seperti menginjak semut saja. Itu belum terhitung menyiksa tawanan secara tidak berperikemanusiaan.

Harian “De Waarheid” di Belanda menurunkan berita bulan Juli tahun 1947, isinya tentang kekejaman Westerling yang dinilai sama dengan kekejaman pasukan Jerman di PD II. Kemudian harian “Vrij Nederland” Juli 1947, juga merinci bagaimana kekejaman Westerling. Misalnya menyuruh dua tawanan bertarung. Lalu yang kalah ditembak mati. Termasuk mengeksekusi orang-orang tak bersalah di depan umum. Maksudnya untuk menakut-nakuti penduduk lain agar mereka mau buka mulut tentang persembunyian gerilyawan.

Situasi perang kadang membuat seorang prajurit mesti bertindak “saya yang mati atau kamu yang mati”. Sehingga mau tidak mau, kadang mesti membunuh. Namun itu tidak berarti prajurit tidak pakai aturan dan diperbolehkan membunuh sesuka hati. Tetap ada aturannya. Jika tidak, maka bisa kena tuduhan melakukan pelanggaran HAM.


Angkatan Perang Ratu Adil

Bicara menjagal manusia Westerling memang sangat berbakat. Untuk menyalurkan “hobinya” menumpahkan darah, Westerling membentuk APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung.
Dia membentuk APRA dalam posisi sebagai orang sipil biasa, karena jabatannya di KNIL telah dicopot oleh Jenderal Simon Spoor pada November 1948.

Berkerja sama dengan Darul Islam Jawa Barat pada tahun 1950, Westerling bersama organisasinya APRA, mengadakan kudeta untuk mendirikan Negara Pasundan yang dikenal dengan peristiwa “kudeta 23 Januari”. Pada saat itu APRA menembaki setiap TNI yang ditemui. Sebanyak 79 Personil pasukan Siliwangi dan enam penduduk sipil gugur. Tapi kudeta itu berhasil digagalkan oleh Pasukan TNI dan disebabkan juga oleh banyaknya desertir di APRA. Pemerintah dan Militer belanda, membantah jika dikatakan mendukung kudeta tersebut.

Pada saat proses pengejaran Westerling oleh beberapa staff TNI di pelabuhan II Tanjung Priok Febuari 1950, terjadi sergapan oleh pihak Westerling yang menyebabkan terlukanya 2 anggota TNI pada saat itu. Sedangkan Westerling sendiri sudah terbang menggunakan pesawat Catalina ke singapura. Di negara ini, Westerling sempat ditahan tentara Inggris tapi pada akhirnya ia bisa kembali juga ke Belanda di bulan agustus pada tahun yang sama.

Perjalanan sang penjagal ini memang penuh dengan darah yang mengalir, tapi pada akhirnya kehidupan dia berakhir bukan di medan perang, tapi oleh sebuah tulisan dari sejarawan De Jong yang membuka masa lalunya dan membuat penyakit jantungnya kambuh dan akhirnya meninggal karena serangan jantung.
Share this article :

Post a Comment

Orang Keren habis baca pasti komen, setuju ?

 
Support : TV Series | Ekspresi2nd Kaskus | Satya Kumara
Copyright © 2013. Blog Seorang Pemuda - All Rights Reserved
Template edited by Satya Kumara Published by Blog Seorang Pemuda
Proudly powered by Blogger